The Beginning After the End Chapter 065 Bahasa Indonesia

A+ A-

Chapter 65 : Widow Crypt II

Bahkan di antara Mana Beast, snarlers adalah makhluk yang mengerikan. Dengan bulu tebal abu-abu dan tubuh berotot setinggi 140cm, mereka tampak seperti gorila Mini. Wajah mereka, itu campuran dari moncong babi hutan dan taring dengan mata merah seperti manik-manik dan telinga panjang. Dengan rahang tebal dan kuat mereka yang menonjol, kau tidak akan pernah berpikir jika mereka hanya Mana Beast tingkat E pada pandangan pertama.

“Grrrrrrrr”

“SSNNNNRRRKKK”

“GRAAHHK! GRAAHHK!”

Saat puluhan hingga ratusan dari mereka mengungkapkan diri dari persembunyian, para snarlers mulai menggertakan rahang mereka sementara mengeluarkan suara geraman rendah.

“P-Professor … apa biasanya memang ada sebanyak ini S-s-s-snarlers-nya?” Salah satu dari siswi perempuan pada kelompok lain tergagap saat bertanya.

“Ini sangat aneh. Bahkan di lantai bawah, biasanya tidak akan pernah ada banyak snarlers yang berkumpul bersama-sama” Profesor Glory menguatkan diri dan mencoba tegas. Karena kelas kami bermoral rendah, jika bahkan profesor menjadi ragu-ragu, semua orang pasti akan berakhir panik.

“Memang ada banyak dari mereka dan mungkin untuk kita tangani. Namun, karena ini hanya sebuah perjalanan kelas, kupikir yang terbaik adalah untuk kembali ke atas. Keselamatan adalah prioritas utama” Tepat saat Profesor Glory mulai perlahan mengantarkan semua orang kembali ke tangga, bola api terbang dan meledak di kerumunan snarlers.

Saat bola api meledak, enam snarlers dilemparkan ke arah yang berbeda dan berbaring tak bergerak.

“Lihat? Binatang kecil yang jahat ini lemah. Profesor, jangan bilang kau membawa kita semua di sini hanya untuk kembali? Bahkan mantra api kecil cukup untuk membunuh enam dari mereka,” Lucas mengejek sambil menurunkan tongkatnya.

Aku tahu Profesor Glory masih ragu-ragu karena jumlah yang tidak biasa dari snarlers tiba-tiba muncul di lantai pertama.

“A-aku pikir kita harus mencoba dan berlatih di sini, Profesor” Curtis terlihat bertekad saat berbicara, karena penampilan Lucas, ia memperoleh kepercayaan juga.

Snarlers yang keluar tampak sedikit takut sekarang, karena mereka waspada dan menjaga jarak, mempelajari kami dengan mata bodoh mereka.

“Oke, tapi jika aku merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar, kita akan segera keluar dari sini, paham?” Dengan suara yang tegas, Professor menunggu kelas untuk menyetujui kondisinya.

Dan ketika ia menerima gelombang anggukan, dia berkata, “Bagus. Kembali ke tim kalian dan bertarunglah di tempat berbeda. AKu tidak ingin masalah apapun terjadi. Dan Lucas, jika kau melakukan sesuatu seperti itu lagi, akan ada konsekuensi untukmu” Profesor Glory menatap dengan mengancam kepada pria pirang sombong, yang enggan mematuhi.

“Pangeran Curtis, bawa timmu dan buat jalan menuju sisi kiri gua. Putri Tessia, bawa timmu ke sebelah kanan gua. Tim terakhir, akan bersamaku. Aku akan mengawasi kalian setiap saat tetapi tetap waspada dan jangan meremehkan snarlers, terutama dengan jumlah ini” Setelah itu, Profesor Glory memberi isyarat agar kedua tim segera bergerak.

“Arthur, aku ingin kau menjadi barisan terdepan karena kau yang terbaik dalam pertarungan jarak dekat. Clive dan Roland, kalian ambil posisi kiri dan kanan belakangnya, pastikan dia terjaga. Lucas, tinggal di pusat antara Arthur, Clive dan Roland; Aku akan menjaga punggungmu. Kita akan dalam posisi berlian yang kita pelajari di kelas!” Segera setelah kami mendekati tentara snarlers, rasa malu Tess menghilang dan digantikan oleh sisi Ketua OSIS-nya.

“GRRRAHHKK !!”

“KHHRRAAA! KRRAAH!”

“Oh fuck, fuck, fuck.” Roland, jelas terintimidasi oleh gertakan dari lima puluh snarlers, yang mengeluarkan senjatanya, yang hanya tampak seperti gagang pedang.

Clive juga mengambil busur pendek logam-Nya dari cincin dimensi dan menariknya. Di mana panah seharusnya ada digantikan oleh jarum logam panjang yang dibungkus dengan hembusan angin.

Aku mengambil Dawn Baladd juga, yang masih terbungkus oleh kain putih. Aku memegangnya dibelakang dan kemudian merendahkan posisiku, bersiap-siap untuk menyerang cepat jika musuh tiba-tiba melompat.

“Menyebar dan hancurkanlah! Ember Wisp!” Ketika kami mendekati gerombolan snarlers, Lucas merilis salah satu mantra favoritnya yang segera mulai mengambang di sekitar kita.

“CRRAAHK !!” Setelah mencapai 5 meter dari gerombolan, aku menyelipkan pedangku dengan erat di pinggang dan siap untuk menariknya saat lebih dari sepuluh snarlers melompat ke arah kami.

Agar bergerak lebih cepat, aku lebih rendah lagi membungkuk ke depan sambil terus memegang pedang yang masih di dalam sarungnya. Setelah menumpuk angin di sekitar, aku harus menggunakan semua kekuatanku untuk menjaga pisauku keluar dari sarungnya sampai menit terakhir. Dengan teori yang sama sebagaimana alat penuai dibuat, aku menunggu sampai aku berada di depan snarlers yang melompat ke udara sebelum aku akhirnya melepaskan pisau bertekanan tinggiku.

Dan saat kecepatan pisauku memecahkan hambatan suara dengan ledakan keras! aku meringis kesakitan saat aku merasa jika terjadi dislokasi pada bahuku. Keterampilan ini bekerja jauh lebih baik daripada yang kupikirkan … Aku benar-benar tidak boleh bereksperimen dengan keterampilan dalam pertempuran yang sebenarnya.

Garis depan snarlers yang baik berada di udara dan di tanah didorong kembali atau dipotong setengah tapi aku tidak bisa menindaklanjuti dengan apa-apa karena lengan kananku terjuntai, menjatuhkan pedangku.

“GRHHAAK!” Beberapa snarlers memposisikan diri mereka kembali dan berlari ke arahku, dengan menggunakan keempat anggota badannya sekarang.

Beberapa anak panah lalu melesat melewatiku dan segera menusuk beberapa snarlers yang hampir mencapaiku.

Aku melihat ke belakang dan memberi Clive anggukkan sebelum mengambil pedangku dengan tangan kiriku. Saat aku melihat ke kiriku, Roland sedang memegang cambuk yang terbuat dari air. Cambuk air lalu berputar tak menentu karena beberapa serangan meleset dari target dengan margin besar, membuatku berpikir bahwa Roland masih belajar seni keluarganya.

Gua saat ini bersinar merah dan biru saat mantra api yang berbeda dikeluarkan oleh tim lain. Snarlers mencoba untuk mengelilingi kita saat mereka mulai menyebar dan menjaga jarak mereka. Gumpalan bara yang Lucas panggil masih kecil, tapi snarlers ternyata lebih licik, mereka melemparkan bongkahan es dari tanah ke gumpalan api untuk memadamkan mereka.

Tess melihatku mencengkeram lenganku saat dia berjuang melawan dua snarlers. “Arthur, kau baik-baik saja?”

“Um … Kupikir aku akan baik-baik saja” Aku mengertakkan gigi dan memposisikan lengan kanan di antara kedua kakiku karena aku siap untuk memperbaikinya.

“Gah!” Aku tidak bisa membantu utuk tidak berteriak, karena aku dengan paksa me-reposisi lenganku ke tempatnya.

Keterampilanku yang bahkan tidak bernama memang baik, mampu untuk membunuh lebih dari lima belas snarlers sekaligus. Sayang sekali tubuhku tidak mampu menahan gaya itu sekarang.

Snarlers tidak terlalu kuat, tapi setelah sekitar tiga puluh menit sosok yang tampaknya tak berujung dan tidak pernah berkurang ini menyerang kami. Clive dan Roland berkeringat deras sementara Tess berubah sedikit pucat. Mantra Lucas bahkan menjadi jauh lebih sedikit flamboyan karena ia harus mengingat batas kolam mana nya sekarang.

“Apakah hanya aku atau ada lebih snarlers sekarang daripada di awal?” Teriak Roland saat ia berhasil membunuh tiga snarlers dengan bantuan Clive.

“Kupikir kau benar. Mereka terus bertambah” Clive menjawab sambil menatap Tess untuk petunjuk lebih lanjut.

Antara mayat-mayat di lantai dan orang-orang yang masih menyerang, sosok lain, ditambah dengan yang baru sudah mencapai kira-kira lebih dari seratus. Itu sudah lebih dari dua kali lipat dari awal.

“Kupikir kita harus kembali ke Profesor Glory. Kita tidak akan mampu untuk terus berjuang seperti ini lebih lama lagi,” Tess mengumumkan. Dan saat kami berjalan perlahan-lahan kembali ke tempat pintu masuk Dungeon, sepertinya tim lain juga memiliki ide yang sama.

Profesor Glory melihat semua tim datang ke arahnya jadi ia berjalan ke kami, menyerang snarlers yang ada di kiri dan kanan dengan pedangnya.

“Profesor, aku tidak berpikir kita bisa terus seperti ini. Snarlers terus berdatangan!” Tess berteriak melawan gelombang suara Snarlers.

“Tim! Ikuti pemimpin kalian! Kita akan kembali!” Tanpa ragu-ragu, Profesor Glory memberi isyarat kepada kamu untuk kembali menaiki tangga ketika kita mendengar ledakan keras.

Es dan stalaktit, bersama dengan puing-puing lainnya dari atap gua ternyata jatuh menerjang ke tanah saat dua tokoh terlihat mengambang di sekitarnya, mengepakkan sayap besar mereka untuk menahan diri mereka tetap stabil di udara.

“Apa kau bercanda? Kenapa snarlers queen bisa ada di lantai ini?” Profesor Glory tidak repot-repot marah saat ia mengambil pedang raksasa lain dari cincin dimensi nya.

“Kelas, pastikan untuk tidak membiarkan salah satu snarlers mendekatiku. Aku akan menangani dua Ratu itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku pasti akan membawa kalian keluar dari sini walau jika itu hal terakhir yang kulakukan” Dengan mendecakkan lidahnya, ia menarik sesuatu dari lehernya dan melemparkannya ke tanah. Dan saat sesuatu seperti kalung yang berkilauan itu berubah menjadi abu-abu, mana yang berfluktuasi di sekitar Profesor Glory berubah.

Dia menggunakan segel!

“Bersiaplah untuk mendukung Profesor Glory! Jangan biarkan salah satu snarlers melewati kita!” Tess memerintahkan sambil memegang tongkat berbilah kedepannya.

“Ya! Vanguards, lindungi conjurer!” Curtis melangkah, mengacungkan pedang dan perisainya.

Aku melangkah ke depan juga, mencengkeram pedangku dengan kedua tangan untuk mendukung bahuku yang berdenyut-denyut. Ada sepuluh dari kita di depan Lucas, Tess dan tiga gadis lainnya yang mulai melantunkan mantra. Tetapi mataku tidak bisa membantu untuk tidak fokus pada Profesor Glory saat ia memegang dua pedang raksasanta, satu di masing-masing tangan. Api dan apa yang tampak seperti pasir cepat mengelilingi dua pedang saat Professor Glory meneriakkan lantunan tak terdengar.

Api dan pasir mulai terjalin sebesar dua snarlers queen, entah karena itu atau bukan, dua snarlers dengan sayap, mulai berhati-hati bergerak di sekitar Profesor Glory. Snarlers Queen memiliki memiliki empat anggota tajam, dan cakar tajam panjang yang berkilau di lapisan atasnya kuasumsikan sebagai racun.

“HAAAHP!” Profesor Glory, dua pedang raksasanya yang diselimuti api dengan pasir, diayunkan kepada snarler queen, yang mana merupakan tanda dimulainya pertempuran.

Aku menahan diri untuk menggunakan mantra, dan memilih untuk hanya menebas dan menendang saat melawan snarlers. Bulu tebal mereka menawarkan mereka sedikit perlawanan terhadap mantra dan serangan dan itu tidak membantu banyak untukku bisa membunuh mereka. Dan apa yang menjadi masalah adalah mayat para snarlers. Mayat mereka mulai menumpuk lebih banyak dan lebih banyak lagi di sekitar kami, menghalangi jalur serangan kami. Tapi saat melihat sekeliling, aku lega melihat bahwa vanguards masih dalam kondisi fit mereka. Curtis dan Claire hanya memiliki goresan kecil dan memar, tapi mereka dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan siswa lain.

Aku menatap sekilas kembali kearah Professor Glory, dan itu mengejutkanku. Profesor Glory mendorong ratu, yang diperkirakan pada tingkat atas bos B-class, kembali, dengan dirinya sendiri. Dan yang lebih mengejutkanku adalah cara dia melakukannya. Dia jelas augmenter atribut ganda bumi dan api, tapi ia juga ternyata bisa memproduksi proyektil yang tampak seperti pecahan es …

Tidak … jika dilihat lebih dekat lagi, itu bukan es. Itu kaca!

Sebuah goresan kecil di lenganku lalu membawa perhatianku kembali ke pertarungan di depanku walau pikiranku tetap tidak bisa merenungkan bagaimana Profesor Glory mampu melakukan itu. Aku memang tahu tentang superheating pasir tapi untuk menghasilkan jumlah panas sambil masih bertarung, itu …

“KRRAAAAAAAHHHH!” Teriakan yang memekakkan telinga membuat kami memutar kepala kami kembali. Profesor Glory memang berhasil mendaratkan pukulan finishing pada Snarlers Queen. Tapi Profesor kami juga tidak dalam bentuk terbaiknya, armor nya tergores dan penyok di berbagai tempat sementara darah menetes di pipinya.

“Baiklah!”

“BAGUS!!”

“Ayo Profesor!”

Kekalahan salah satu ratu secara dramatis meningkatkan moral kelas saat masing-masing semangat baru membuat para siswa untuk terus melawan lebih keras terhadap snarlers yang tampaknya tak berujung.

“GRRRRAAAAAAHH !!!”

Setelah beberap detik mendengar teriakan kerasny, kami melihat Profesor Glory terbang melewati garis depan dan mendarat keras melawan gelombang snarlers biasa.

Setelah membiasakan diri beberapa detik untuk melihat kembali, rasa mual memukulku saat mataku terpaku ke mata snarler queen besar, yang sedang meraih mayat ratu lain yang telah jatuh.

Comment

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *